Fiqih Sholat

Menyoroti Shalat Arba’in Di Masjid Nabawi

Senin, 30 September 2013 19:37:04 WIB

Sebagian orang tidak lagi bersemangat untuk shalat di Masjid Nabawi setelah menyelesaikan arba’in. Hal ini bisa mudah dilihat di penginapan para jamaah haji menjelang kepulangan dari Madinah. Panggilan adzan yang terdengar keras dari hotel-hotel yang umumnya dekat dari Masjid Nabawi tidak lagi dijawab sebagaimana hari-hari sebelumnya saat program arba’in belum selesai. Jika kita melihat kondisi para jamaah haji setelah sampai di negeri masing-masing, kita bisa melihat kondisi yang lebih memperhatikan lagi. Adakah ini karena keyakinan mereka bahwa mereka telah bebas dari neraka dan kemunafikan setelah menyelesaikan program arba’in ? jika demikian, maka amalan yang masih diperselisihkan ini telah memberikan dampal buruk atau dipahami secara salah. Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim – salah satu ulama yang ikut menshahihkan amalan ini- berkata, ”Perlu diketahui bahwa tujuan dari arba’in adalah membiasakan dan memompa semangat shalat jamaah. Adapun jika setelah pulang orang meninggalkan shalat jamaah dan meremehkan shalat, maka ia sungguh telah kembali buruk setelah sempat baik.”

Mengucapkan Amien Setelah Al-Fâtihah

Kamis, 2 Mei 2013 21:26:26 WIB

Terkadang ada yang menambah ucapan âmîn dengan lafazh YA RABBAL ALAMÎN setelah selesai membaca al-Fâtihah. Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, namun yang râjih adalah pendapat yang menyatakan tidak disunnahkan menambah dengan kata atau lafazh lainnya, dengan alasan : Cukup dengan ucapan âmîn adalah suatu yang sudah sesuai dengan ucapan dan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menambahkan satu katapun. Tindakan ini merupakan realisasi ittiba’ kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satu hadits shahih pun yang menetapkan adanya tambahan tersebut. Dan ini juga tidak dilakukan oleh para sahabat semasa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal shalat dilakukan berulang kali, baik yang fardhu ataupun yang sunnah. Dan yang terbaik bagi kita yaitu menyesuaikan dengan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang hanya mencukupkan diri dengan membaca âmîn tidak ada yang mencela dan tidak yang menilainya meninggalkan sunnah. Ini berbeda dengan orang yang menambah, maka mungkin ada orang yang menilainya tidak mengamalkan sunnah.

Shalat Sunah Rawâtib ‘Ashar, Maghrib dan ‘Isya

Minggu, 3 Februari 2013 06:25:54 WIB

“Kami bertanya kepada ‘Ali tentang shalat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada siang hari”. Maka ia menjawab: “Kalian tidak akan mampu melakukannya”. Sehingga kami jawab: “Beritahukan kepada kami, nanti kami akan mengamalkan yang kami mampu”. Beliau berkata: “Dahulu, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Subuh, (beliau) memperlambat hingga matahari dari sebelah sini –yaitu dari arah timur- seukuran dari shalat ‘Ashar dari arah sini –yaitu dari arah barat- maka beliaupun bangkit lalu shalat dua raka’at, kemudian memperlambat hingga matahari dari arah sini –yaitu arah timur- seukuran dari shalat Zhuhur, dari sini beliau bangkit lalu shalat empat raka’at dan empat raka’at sebelum Zhuhur apabila matahari telah tergelincir dan dua raka’at setelahnya, dan empat raka’at sebelum Ashar (dengan) memisah antara dua rakaatnya dengan taslim kepada Malaikat Muqarrabin, para nabi dan pengikut mereka dari kaum muslimin dan mukminin”. Ali berkata: “Itulah enam belas raka’at shalat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada siang hari, dan sedikit yang terus-menerus melakukannya”. Setelah menyampaikan hadits ‘Âshim bin Dhamrah ini, Abu Isa at-Tirmidzi berkata: “Hadits Ali adalah hadits hasan. Ishâq bin Ibrahim tidak memisah dalam empat raka’at sebelum ‘Ashar, dan (ia) berargumen dengan hadits ini. Ishâq mengatakan, bahwa pengertian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisah antaranya dengan taslîm adalah tasyahud.

Shalat Sunah Rawâtib Zhuhur

Sabtu, 2 Februari 2013 06:22:47 WIB

Dari Kuraib Maula Ibnu ‘Abbas, bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdur-Rahman bin Azhar dan al-Miswar bin Makhramah mengutusnya menemui ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka berkata: “Sampaikan kepada beliau salam dari kami semua dan tanyakan tentang dua rakaat setelah shalat ‘Ashar. Juga katakan, bahwa kami menerima berita bahwa engkau melakukan shalat dua rakaat (setelah ‘Ashar) tersebut, padahal telah sampai kapada kami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya”. Ibnu ‘Abbas berkata: “Aku, dahulu bersama ‘Umar bin al-Khaththab memukul orang yang melakukannya”. Kuraib berkata: “Lalu aku menemui beliau (‘Aisyah) dan menyampaikan semua pesan mereka,” lalu beliau berkata: ‘Tanyakanlah kepada Ummu Salamah,’ lantas aku berangkat kepada mereka dan memberitahukan mereka tentang jawaban beliau. Kemudian mereka menyuruhku pergi ke Ummu Salamah dengan pesan-pesan yang dibawa kepada ‘Aisyah”. Kemudian Ummu Salamah menjawab: “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari keduanya, kemudian aku melihat beliau mengerjakannya. Adapun waktu beliau melakukannya, yaitu setelah shalat ‘Ashar kemudian masuk, dan bersamaku ada beberapa orang wanita kalangan Anshar dari Bani Harâm, lalu beliau melakukan shalat dua rakaat tersebut.

Shalat Sunnah Rawâtib Subuh

Jumat, 1 Februari 2013 06:20:09 WIB

Demikian ini pendapat Abu Musa al-Asy’ari, Râfi’ bin Khadîj, Anas bin Mâlik, Abu Hurairah, Muhammad bin Sirîn, Sa’id bin al-Musayyib, al-Qâsim bin Muhammad bin Abu Bakar, ‘Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin Abdur-Rahman bin ‘Auf, Khârijah bin Zaid bin Tsâbit, ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, Sulaiman bin Yasâr, dan begitu pula di kalangan madzhab Syâfi’i dan Hambali. Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah tersebut, dan membawa makna perintah dalam riwayat tersebut kepada sunnah (istihbab) dengan didukung hadits ‘Aisyah yang berbunyi : Sesungguhnya dahulu, jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai melakukan shalat sunnah Subuh, apabila aku terjaga (tidak tidur-red) maka beliau mengajakku berbicara, dan bila (aku) tidak (sedang terjaga) maka beliau berbaring hingga shalat diiqamati. Dalam hadits ini dapat diketahui bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbaring apabila ‘Aisyah telah bangun, sehingga hadits ini bisa merubah makna perintah yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari bermakna wajib berubah menjadi sunnah. Demikian juga, hadits ‘Aisyah ini menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tidak berbaring setelah melakukan Rawâtib Subuh. Seandainya wajib, tentu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan meninggalkannya.

Kamis, 31 Januari 2013 23:16:30 WIB

Para ulama sangat memperhatian shalat sunnah Rawâtib ini. Yang dimaksud dengan shalat sunnah Rawâtib, yaitu shalat-shalat yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dianjurkan bersama shalat wajib, baik sebelum maupun sesudahnya. Ada yang mendefinisikannya dengan shalat sunnah yang ikut shalat wajib. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin mengatakan, yaitu shalat yang terus dilakukan secara kontinyu yang mendampingi shalat fardhu. Bagaimanakah kedudukan shalat sunnah Rawâtib ini, sehingga para ulama sangat memperhatikannya? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb k berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)?” Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian.” Dari hadits tersebut, menjadi jelaslah betapa shalat sunnah Rawâtib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan yang melanda shalat wajib seseorang.

Strategi Dakwah

Strategi Dakwah Rasul Saw Saat Kuat

KIBLAT.NET – Rasulullah menerapkan strategi berbeda ketika kondisi kaum muslimin kuat. Inilah rangkuman langkah-langkah tersebut:

Membangun Masjid

Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam adalah Masjid Quba’ yang dibangun ketika dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Sesampainya di Madinah, langkah pertama dalam tahap ini adalah membangun dan membina masjid Nabawy yang akan menjadi markas besar bagi berdirinya kedaulatan Islam.

Masjid memiliki banyak peran. Muhammad Shalih Qazaz, mantan Sekjen Rabithah Al-Alam Al-Islamy, mengatakan bahwa masjid itu berfungsi sebagai Perguruan Tinggi, tempat berkumpul umat Islam, juga sebagai Pengadilan, ia juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan orang Mukmin, tempat mengatur strategi negara.

Masjid bukan sekedar tempat untuk melaksanakan shalat semata, melainkan sekolah bagi kaum muslimin untuk menerima pengajaran Islam. Ia juga berfungsi sebagai balai pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan di masa jahiliah. Ialah tempat untuk mengatur segala urusan dan sekaligus sebagai gedung pertemuan untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan.

Mempersaudarakan Kaum Muslimin

Pergolakan, konfrontasi, konflik dan pertikaian biasa mengiringi sejarah umat manusia. Maka dibutuhkan adanya saling memahami antar mereka, terlebih bagi kaum muslimin. Terpecahnya kaum muslimin menjadi beberapa kelompok merupakan bahaya besar. Tanpa rasa persaudaraan, jangankan menggalang kekuatan antar sesama, kekuatan saudaranya pun akan dirusak hingga rontok dan luluh. Oleh karena itu membangun ukhuwah bagi kaum muslimin sangatlah penting.

Langkah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam setelah membangun pusat kegiatan kaum muslimin (masjid) adalah mempersaudarakan mereka, antara Muhajirin dan Anshar. Tujuan persaudaraan ini sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Al-Ghazali, ialah agar fanatisme jahiliah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang dibela kecuali Islam. Di samping itu, agar perbedaan-perbedaan keturunan, warna kulit, dan daerah tidak mendominasi.

Dorongan perasaan untuk mendahulukan kepentingan orang lain, saling mengasihi dan memberikan pertolongan benar-benar tumbuh dalam persaudaraan ini, mewarnai masyarakat yang baru dibangun dengan beberapa gambaran yang mengundang decak kekaguman.
Saat itu yang dipersaudarakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam ada 100 orang, 50 orang dari kaum Muhajirin dan 50 lainnya dari kaum Anshar.

Jihad

Setelah kaum muslimin memiliki daerah, sendi-sendi masyarakat Islam telah dipancangkan dengan menciptakan kesatuan aqidah, politik, dan sistem kehidupan, langkah selanjutnya untuk menyebarkan dakwah adalah melebarkan sayap dengan berperang di jalan Allah (Jihad fii Sabilillah). Perang dalam Islam bukanlah untuk menghancurkan masyarakat dan umat, bukan pula untuk mencari kemenangan semata, dan bukan untuk menghina pihak yang kalah. Kaum muslimin berjuang dalam rangka melaksanakan dakwah Islam, dengan tujuan mengesakan Allah secara murni.

Mahmud Syeit Khaththab dalam bukunya ar-Rasul al-Qo’id mengatakan bahwa tujuan perang dalam Islam adalah:

  1. Melindungi kebebasan penyebaran dakwah
  2. Mengokohkan sendi-sendi perdamaian.

Islam bukanlah agama lokal, melainkan agama dunia. Sebab itu, kaum muslimin bertanggung jawab untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada manusia sedunia,  dan mengajak mereka kepada nilai-nilai Islam. Di antara strategi yang digunakan adalah dengan mendakwahi pemimpin-pemimpin negara. Diharapkan dengan keislaman mereka masyarakat yang mereka pimpin akan mengikuti. Kontak-kontak ke luar negeri ini dilakukan setelah keadaan pemerintahan dalam negeri berjalan stabil.

Inilah langkah Nabi, beliau melayangkan surat-surat kepada para pembesar dunia, enam bulan setelah perjanjian Hudaibiyah ditandatangani. Untuk menulis surat-surat tersebut beliau mengangkat beberapa sekretaris yang ahli bahasa dan sastra. Selanjutnya beliau memilih duta besar yang cakap dan ahli serta memiliki kemampuan untuk menjelaskan ajaran Islam dengan tepat dan mudah dipahami.

Duta-duta tersebut adalah:

  1. Dihyah al-Kalby, diutus kepada Kaisar Byzantium di Konstantinopel (Raja Heraclius).
  2. Habib bin Abi Baltha’ah
  3. Al-Harits bin Umair, keduanya diutus kepada Gubernur Jendral Byzantium (Muqauqis) di Mesir.
  4. Syuja’ bin Wahab, diutus kepada Gubernur Jendral Byzantium di Damaskus.
  5. Amr bin Umayyah, diutus kepada Raja Najasy, Etiopia.
  6. Abdullah bin Huzaifah, diutus kepada Raja Kisra, Persia.
  7. Al-A’la bin Hadramy, diutus kepada Raja Bahrain.
  8. Amr bin Ash, diutus kepada Raja Amman.
  9. Salbuth bin Amr al-Amiry, diutus kepada Raja Yamamah.

Setelah perjalanan panjang ditempuh, duka dan derita dirasakan, harta dikorbankan, keringat dicucurkan, darah dan air mata diteteskan, dan segala yang dimiliki telah dicurahkan, umat Islam berhasil meraih kejayaan. Seluruh Jazirah Arab tunduk kepada dakwah Islam, debu-debu jahiliah tidak tampak lagi di udara Arab dan akal yang semula menyimpang kini menjadi lurus, sehingga berhala ditinggalkan bahkan dihancurkan. Udara Arab berubah dipenuhi suara-suara tauhid, azan terdengar memecah angkasa. Para dai pergi ke segala arah membacakan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Berbagai kabilah dan suku bersatu padu menyembah Allah yang Esa. Singkatnya hampir seluruh permukaan bumi dihuni oleh manusia-manusia yang bertauhid.

Aqidah Syi’ah

Pokok-Pokok Kesesatan Aqidah Syiah

Minggu, 2 Juni 2013 22:36:18 WIB
POKOK-POKOK KESESATAN AQIDAH SYIAH

Syiah dikenal dengan sebutan Rafidhah karena mereka menolak mengakui khilafah Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu bin Khaththab dan penolakan mereka atas sanjungan Zaid bin ‘Ali bin Husain terhadap dua orang terbaik umat itu. Mereka menyikapi jawaban Zaid bin Ali bin Husain dengan , “Rafadhnaka” yang artinya kami menolak jawabanmu. Akhirnya mereka dikenal dengan nama Rafidhah.

Rafidhah adalah salah satu sekte Syiah, dan memiliki banyak nama diantaranya al-Itsna ‘Asyariyah, Ja’fariyyah, Imamiyyah dan nama yang lainnya, akan tetapi hakikatnya sama. Apabila pada zaman ini disebutkan kata Syiah secara mutlak, maka tidak lain yang dimaksudkan adalah Rafidhah

Rafidhah memiliki keyakinan-keyakinan yang sangat bertentangan dengan Islam yang mereka jadikan sebagai dasar agama mereka. Di antara kerusakan keyakinan mereka adalah:

1. Al-Qur`ân yang dijamin keutuhan dan keasliannya oleh Allâh Azza wa Jalla telah banyak berkurang dan mengalami banyak perubahan. Bahkan menurut mereka, al-Qur`ân hanya sepertiga dari al-Qur`ân yang dipegang ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu yang mereka sebut dengan Mushaf Fâthimah yang turun temurun dibawa oleh para imam dan sekarang dibawa oleh Imam al-Muntazhar (imam yang mereka tunggu kedatangannya)?!!

2. Al-Qur`ân tidak bisa dipahami kecuali dengan penafsiran para imam dua belas.

3. Mereka melakukan ta’thîl (meniadakan) nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla sehingga dalam konteks ini mereka termasuk kaum Jahmiyyah.

4. Iman dalam pandangan mereka adalah mengenal dan mencintai para imam.

5. Mereka menafikan takdir sehingga mereka termasuk golongan Qadariyyah (kelompok yang tidak mengimani takdir).

6. Mereka meyakini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada ‘Ali untuk menggantikannya sebagai khalifah sepeninggalnya.

7. Pengkafiran terhadap para Sahabat Nabi dan keyakinan bahwa para Sahabat Nabi telah murtad kecuali hanya beberapa orang saja dari mereka.

Tentang keyakinan ini, Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkomentar untuk mendudukkan tujuan utama yang mereka bidik melalui pengkafiran umum terhadap Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum : “Sesungguhnya tujuan mereka mencela para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah untuk mendongkel al-Qur`ân dan Sunnah. Kalau pembawa dan penyampai agama ini adalah orang-orang yang murtad, bagaimana kita menerima apa yang mereka sampaikan. (Inilah tujuan mereka, red). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci [ash-Shaff/61:8]

Barangsiapa memiliki anggapan bahwa para Sahabat Radhiyallahu anhum telah murtad kecuali hanya beberapa yang hanya mencapai belasan orang saja atau kebanyakan merupakan orang-orang fasik setelah meninggalnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka tidak diragukan lagi akan kekufurannya karena telah mendustakan ayat-ayat al-Qur`ân yang menjelaskan keridhaan dan pujian Allâh Azza wa Jalla terhadap para Sahabat. Siapakah yang meragukan kekufuran keyakinan seperti ini?! Kekufuran orang yang meyakininya sudah pasti. Sesungguhnya anggapan ini juga mengharuskan bahwa penyampai al-Qur`ân dan Sunnah adalah orang-orang kafir dan fasik. (Berdasarkan keyakinan mereka yang rusak itu), firman Allâh berikut :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia [Ali ‘Imrân/3:110]

Memberikan makna bahwa umat yang terbaik dan generasi pertama umat adalah orang-orang kafir dan fasik yang berarti bahwa umat ini adalah sejelek-jelek umat dan yang terjelek adalah generasi awalnya. Kekufuran keyakinan seperti ini sangat nyata dalam Islam”.[1]

8. Para imam dua belas mendapatkan wahyu dari Allâh Azza wa Jalla , sehingga kaum Syiah mendefinisikan Sunnah dengan istilah segala yang berasal dari orang ma’shûm (yang terjaga dari dosa dan kesalahan) baik berupa perkataan, perbuatan, ataupun taqrîr (pembenaran). Menurut mereka, hanya ‘Ali bin Abi Thâlib yang menguasai Sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

9. Imâmah (kepemimpinan) kaum Muslimin hanya dipegang oleh Imam Dua Belas. Mereka mencela dan tidak mengakui khilafah Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu

Tentang keyakinan ini, Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa tidak mengakui khilafah (kepemimpinan) Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu , dia adalah seorang rafidhi”.

10. Para imam memiliki sifat ma’shûm, terjaga dari kesalahan mereka, tidak pernah lupa dan selalu mengetahui apa yang terjadi dan yang akan terjadi.

11. Para imam tidak akan mati kecuali dengan keinginan mereka.

12. Para imam akan bangkit dari kubur apabila mereka menghendaki, untuk menjumpai sebagian manusia. Keyakinan ini mereka sebut dengan akidah zhuhûr

13. Para imam dan wali lebih mulia daripada para nabi dan rasul.

14. Para imam akan kembali ke dunia setelah kematian mereka demikian pula Ahlussunnah. Mereka kemudian akan membalas para Sahabat, menyalib Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu dan menegakkan hukuman zina terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma – semoga Allâh Azza wa Jalla menghancurkan mereka-. Keyakinan ini mereka sebut dengan akidah ar-raj’ah

15. Kuburan para imam adalah tempat-tempat suci.

16. Keyakinan bada’ yaitu terkuaknya sesuatu bagi Allâh Azza wa Jalla setelah sebelumnya tersembunyi sehingga menyebabkan Allâh Azza wa Jalla menarik perkataan yang telah difirmankan atau perbuatan yang dilakukan. Maha suci Allâh Azza wa Jalla atas apa yang mereka katakan

17. Mereka berkeyakinan orang-orang di luar mereka adalah kafir, sama sekali tidak berhak untuk masuk surga

18. Mereka berkeyakinan bahwa seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Ahlussunah akan diberikan untuk Syiah dan dosa-dosa Syiah akan dibebankan kepada Ahlussunnah. Ini yang mereka sebut dengan istilah ath-thînah

19. Kewajiban melakukan taqiyah, yaitu seorang penganut agama Syiah berkata dengan perkataan yang berbeda dengan apa yang dia yakini, atau menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada pada hatinya. Keyakinan taqiyah ini merupakan satu kewajiban bagi para penganut Syiah. Oleh karena itu, penganut Syiah mengerjakan shalat di belakang Ahlussunnah dalam rangka taqiyah (melindungi diri) dan pujian-pujian para imam mereka terhadap para Sahabat dilakukan dalam rangka menjalankan taqiyah

20. Imam yang kedua belas, Muhammad bin Hasan al-‘Asykari telah memasuki salah satu gua di daerah Samira tahun 260 H pada saat masih kecil. Ia telah menjadi seorang imam sejak kematian ayahnya sampai hari ini. Padahal fakta menyatakan bahwa Hasan al-Askari meninggal dalam keadaan mandul, tidak memiliki anak.

21. Halalnya darah dan kehormatan Ahlussunnah. Menurut mereka, boleh menggunjing, mencela bahkan melaknat Ahlussunnah.

22. Menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak). Bahkan menurut mereka nikah mut’ah lebih utama daripada menjalankan shalat, puasa, dan haji

RENUNGAN
Setelah penyampaian keyakinan Syiah secara global ini, Syaikh Dr. Muhammad Musa Alu Nashr hafizhahullâh mengatakan: “Setelah pemaparan semua ini, bolehkan kita katakan bahwa Syiah adalah saudara-saudara kita atau mengatakan bahwa mereka adalah ahli tauhid?![2] . Mustahil, kalau keyakinan-keyakinan ini hanya sebuah aliran saja. Akan tetapi, itu merupakan sebuah agama tersendiri (Syiah). Syiah adalah sebuah agama. Dan agama Ahlussunnah adalah risalah yang dibawa oleh utusan Penguasa alam semesta, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aqidah mereka yang sesat ini tertulis di dalam kitab-kitab para agamawan mereka dan tidak perlu kita nukilkan omongan-omongan mereka karena hanya akan menyesakkan dada dan mengeruhkan pikiran. Orang-orang yang masih memiliki akal sehat dan pikiran yang lurus akan enggan mendengarkannya, apalagi sampai mau mengikuti mereka.

Allâh Azza wa Jalla telah mendatangkan dari kalangan Ahlussunnah, orang-orang (ulama) yang mematahkan syubhat mereka, menguliti kegelapan akidah mereka, menguak kesesatan dan kebodohan mereka, membantah kedustaan mereka, menjelaskan pengkaburan dan penipuan yang mereka lakukan, membuka kedok kepalsuan dan penyimpangan mereka, membersikan nama para Sahabat Rasulullah dari kedustaan dan celaan- celaan yang mereka lancarkan…

‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu berkata:

لِيُحِبُّنِيْ رِجَالٌ يُدْخِلُهُمُ اللهُ بِحُبِّيْ النَّارَ وَيُبْغِضُنِيْ رِجَالٌ يُدْخِلُهُمُ اللهُ بِبُغْضِيْ النَّارَ

Sungguh akan ada orang-orang yang dimasukan oleh Allâh ke dalam neraka karena kecintaan mereka kepadaku. Dan sungguh akan ada orang-orang yang dimasukkan oleh Allâh ke dalam neraka karena kebencian mereka kepadaku [3]

 

Akhlak Rasulullah SAW

AKHLAK RASULULLAH SAW
Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seseorang, “Siapakan perempuan yang paling Engkau cintai ?”. Beliau SAW menjawab,” Aisyah”. Lalu ditanya lagi,”Kalau dari kalangan laki laki, siapakah yang paling engkau cintai Ya Rasulullah?”. Rasulullah SAW menjawab,”Ayahnya yaitu Abu Bakar”. Khalifah Abu Bakar As Shiddiq r.a lelaki yang paling utama di kalangan umat ini adalah orang yang menemani Rasulullah SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah. Beliau pula orang yang paling banyak berinfaq fi sabilillah bila seruan jihad telah berkumandang. Sewaktu Rasulullah SAW sakit yang menyebabkan kewafatannya maka Abu Bakar r.a yang ditunjuk sebagai Imam sholat. Dan kelak syurga yang paling luas dari kalangan umat ini adalah syurganya Abu Bakar r.a

Pernah suatu hari Abu Bakar r.a tercenung, ia sedang berpikir kira kira amal apa yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW tapi belum ia kerjakan. Maka ia mencari anaknya, Aisyah r.a dan bertanya,”Wahai anakku, apa kira kira amal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika masih hidup tapi belum aku kerjakan?”. Aisyah r.a berpikir sejenak lalu menjawab, “Rasulullah SAW selalu memberi makan kepada seorang Yahudi buta di pojok sudut pasar”. Maka Abu Bakar r.a mengecek apa yang dikatakan oleh anaknya dan benar saja, ia dapati seorang perempuan renta yang buta duduk disudut pasar tanpa ada siapapun yang mempedulikannya.

Abu Bakar r.a segera mendekati perempuan buta Yahudi itu dan mengeluarkankan roti yang sudah siapkan untuk diberi kepada perempuan buta itu. Dari mulut perempuan buta itu selalu terdengar omongan yang buruk tantang Rasulullah SAW. Ia menghina Rasulullah SAW dan menyuruh orang orang dipasar untuk tidak mengikuti ajakan Muhammad. Abu Bakar r.a mendengar itu semua dan sabar, ia tidak bisa membayangkan perasaan Rasulullah SAW memberi makan perempuan buta itu sambil dihina dan diejek setiap harinya oleh perempuan yang sama. Mulut yang telah diberinya makan tiap hari tapi kembali memberi berupa hinaan dan cercaan. Rasulullah SAW memang memiliki akhlak yang agung.

Ketika suapan pertama telah masuk kedalam mulut perempuan buta itu ia merasa kaget dan memuntahkan makanan yang diberi oleh Abu Bakar r.a. Perempuan buta itu berkata,”Siapa kamu, kamu bukan orang yang biasa memberi aku makan”. Abu Bakar berkata ,”Dari mana kamu tahu kalau aku bukan orang yang biasa memberi kamu makan?”. Perempuan buta itu menjawab,”Makanan yang kau beri tidak kau haluskan lebih dulu. Orang yang biasa memberi aku makan selalu menghaluskan makanan lebih dulu karena ia tahu kalau gigiku sudah tak sanggup mengunyah makanan”. Abu Bakar r.a hendak meneteskan airmata, mengingat akan kekasihnya Rasulullah SAW yang berakhlak sangat mulia sekalipun kepada orang yang setiap hari menghina dan mencacinya. Sejenak kemudian Abu Bakar r.a berkata,”Ketahuilah olehmu wahai perempuan yang buta bahwa orang yang biasa memberimu makan sudah meninggal beberapa hari yang lalu dan aku adalah sahabatnya. Orang yang biasa memberimu makan adalah Muhammad SAW, laki laki yang tiap hari selalu bersabar meski kau hina dan caci sedangkan ia tak pernah berhenti menyuapkan makanan kemulutmu”.

Perempuan Yahudi yang buta itu kaget bukan main dan tak lama kemudian ia menangis. Benaknya berpikir bagaimana mungkin orang yang selalu bersabar dan memberinya makan sambil terus mendengar hinaan dan cacian bukan seseorang yang menjadi pilihan Tuhan untuk menyampaikan Risalah kenabian. Ia menyesal belum sempat meminta maaf kepada orang yang sangat peduli dengannya padahal tidak ada seorang keluarganyapun yang sempat menengok keadaannya.

Ia lalu bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a dan menjadi muslimah yang taat. Kini hari harinya diisi dengan ibadah. Tidak pernah ia melewatkan waktu kecuali dengan sibuk berzikir dan beribadah. Ia selalu menangis bila ziarah ke makam Rasulullah SAW. Kini iman telah mengisi relung kalbunya dan amal sholeh telah menghiasi tubuhnya.

Rasulullah SAW adalah seorang maestro cinta. Beliau menebarkan rahmat kemanapun melangkah. Beliau menyemai hidayah dalam setiap aktifitas. Beliau mengajarkan kelembutan dalam bertutur kata dan beliau SAW memberi rasa aman dalam setiap tindakan. Tidak salah kiranya kalau seorang penulis terkenal Barat Michael Hart menempatkan Muhammad SAW sebagai orang paling berpengaruh sepanjang masa. Semoga kita tidak hanya bisa membaca ceritanya tapi juga bisa meneladani sifat sifatnya..Amiin