Fiqih Sholat

Menyoroti Shalat Arba’in Di Masjid Nabawi

Senin, 30 September 2013 19:37:04 WIB

Sebagian orang tidak lagi bersemangat untuk shalat di Masjid Nabawi setelah menyelesaikan arba’in. Hal ini bisa mudah dilihat di penginapan para jamaah haji menjelang kepulangan dari Madinah. Panggilan adzan yang terdengar keras dari hotel-hotel yang umumnya dekat dari Masjid Nabawi tidak lagi dijawab sebagaimana hari-hari sebelumnya saat program arba’in belum selesai. Jika kita melihat kondisi para jamaah haji setelah sampai di negeri masing-masing, kita bisa melihat kondisi yang lebih memperhatikan lagi. Adakah ini karena keyakinan mereka bahwa mereka telah bebas dari neraka dan kemunafikan setelah menyelesaikan program arba’in ? jika demikian, maka amalan yang masih diperselisihkan ini telah memberikan dampal buruk atau dipahami secara salah. Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim – salah satu ulama yang ikut menshahihkan amalan ini- berkata, ”Perlu diketahui bahwa tujuan dari arba’in adalah membiasakan dan memompa semangat shalat jamaah. Adapun jika setelah pulang orang meninggalkan shalat jamaah dan meremehkan shalat, maka ia sungguh telah kembali buruk setelah sempat baik.”

Mengucapkan Amien Setelah Al-Fâtihah

Kamis, 2 Mei 2013 21:26:26 WIB

Terkadang ada yang menambah ucapan âmîn dengan lafazh YA RABBAL ALAMÎN setelah selesai membaca al-Fâtihah. Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, namun yang râjih adalah pendapat yang menyatakan tidak disunnahkan menambah dengan kata atau lafazh lainnya, dengan alasan : Cukup dengan ucapan âmîn adalah suatu yang sudah sesuai dengan ucapan dan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menambahkan satu katapun. Tindakan ini merupakan realisasi ittiba’ kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satu hadits shahih pun yang menetapkan adanya tambahan tersebut. Dan ini juga tidak dilakukan oleh para sahabat semasa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal shalat dilakukan berulang kali, baik yang fardhu ataupun yang sunnah. Dan yang terbaik bagi kita yaitu menyesuaikan dengan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang hanya mencukupkan diri dengan membaca âmîn tidak ada yang mencela dan tidak yang menilainya meninggalkan sunnah. Ini berbeda dengan orang yang menambah, maka mungkin ada orang yang menilainya tidak mengamalkan sunnah.

Shalat Sunah Rawâtib ‘Ashar, Maghrib dan ‘Isya

Minggu, 3 Februari 2013 06:25:54 WIB

“Kami bertanya kepada ‘Ali tentang shalat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada siang hari”. Maka ia menjawab: “Kalian tidak akan mampu melakukannya”. Sehingga kami jawab: “Beritahukan kepada kami, nanti kami akan mengamalkan yang kami mampu”. Beliau berkata: “Dahulu, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Subuh, (beliau) memperlambat hingga matahari dari sebelah sini –yaitu dari arah timur- seukuran dari shalat ‘Ashar dari arah sini –yaitu dari arah barat- maka beliaupun bangkit lalu shalat dua raka’at, kemudian memperlambat hingga matahari dari arah sini –yaitu arah timur- seukuran dari shalat Zhuhur, dari sini beliau bangkit lalu shalat empat raka’at dan empat raka’at sebelum Zhuhur apabila matahari telah tergelincir dan dua raka’at setelahnya, dan empat raka’at sebelum Ashar (dengan) memisah antara dua rakaatnya dengan taslim kepada Malaikat Muqarrabin, para nabi dan pengikut mereka dari kaum muslimin dan mukminin”. Ali berkata: “Itulah enam belas raka’at shalat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada siang hari, dan sedikit yang terus-menerus melakukannya”. Setelah menyampaikan hadits ‘Âshim bin Dhamrah ini, Abu Isa at-Tirmidzi berkata: “Hadits Ali adalah hadits hasan. Ishâq bin Ibrahim tidak memisah dalam empat raka’at sebelum ‘Ashar, dan (ia) berargumen dengan hadits ini. Ishâq mengatakan, bahwa pengertian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisah antaranya dengan taslîm adalah tasyahud.

Shalat Sunah Rawâtib Zhuhur

Sabtu, 2 Februari 2013 06:22:47 WIB

Dari Kuraib Maula Ibnu ‘Abbas, bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdur-Rahman bin Azhar dan al-Miswar bin Makhramah mengutusnya menemui ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka berkata: “Sampaikan kepada beliau salam dari kami semua dan tanyakan tentang dua rakaat setelah shalat ‘Ashar. Juga katakan, bahwa kami menerima berita bahwa engkau melakukan shalat dua rakaat (setelah ‘Ashar) tersebut, padahal telah sampai kapada kami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya”. Ibnu ‘Abbas berkata: “Aku, dahulu bersama ‘Umar bin al-Khaththab memukul orang yang melakukannya”. Kuraib berkata: “Lalu aku menemui beliau (‘Aisyah) dan menyampaikan semua pesan mereka,” lalu beliau berkata: ‘Tanyakanlah kepada Ummu Salamah,’ lantas aku berangkat kepada mereka dan memberitahukan mereka tentang jawaban beliau. Kemudian mereka menyuruhku pergi ke Ummu Salamah dengan pesan-pesan yang dibawa kepada ‘Aisyah”. Kemudian Ummu Salamah menjawab: “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari keduanya, kemudian aku melihat beliau mengerjakannya. Adapun waktu beliau melakukannya, yaitu setelah shalat ‘Ashar kemudian masuk, dan bersamaku ada beberapa orang wanita kalangan Anshar dari Bani Harâm, lalu beliau melakukan shalat dua rakaat tersebut.

Shalat Sunnah Rawâtib Subuh

Jumat, 1 Februari 2013 06:20:09 WIB

Demikian ini pendapat Abu Musa al-Asy’ari, Râfi’ bin Khadîj, Anas bin Mâlik, Abu Hurairah, Muhammad bin Sirîn, Sa’id bin al-Musayyib, al-Qâsim bin Muhammad bin Abu Bakar, ‘Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin Abdur-Rahman bin ‘Auf, Khârijah bin Zaid bin Tsâbit, ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, Sulaiman bin Yasâr, dan begitu pula di kalangan madzhab Syâfi’i dan Hambali. Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah tersebut, dan membawa makna perintah dalam riwayat tersebut kepada sunnah (istihbab) dengan didukung hadits ‘Aisyah yang berbunyi : Sesungguhnya dahulu, jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai melakukan shalat sunnah Subuh, apabila aku terjaga (tidak tidur-red) maka beliau mengajakku berbicara, dan bila (aku) tidak (sedang terjaga) maka beliau berbaring hingga shalat diiqamati. Dalam hadits ini dapat diketahui bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbaring apabila ‘Aisyah telah bangun, sehingga hadits ini bisa merubah makna perintah yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari bermakna wajib berubah menjadi sunnah. Demikian juga, hadits ‘Aisyah ini menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tidak berbaring setelah melakukan Rawâtib Subuh. Seandainya wajib, tentu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan meninggalkannya.

Kamis, 31 Januari 2013 23:16:30 WIB

Para ulama sangat memperhatian shalat sunnah Rawâtib ini. Yang dimaksud dengan shalat sunnah Rawâtib, yaitu shalat-shalat yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dianjurkan bersama shalat wajib, baik sebelum maupun sesudahnya. Ada yang mendefinisikannya dengan shalat sunnah yang ikut shalat wajib. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin mengatakan, yaitu shalat yang terus dilakukan secara kontinyu yang mendampingi shalat fardhu. Bagaimanakah kedudukan shalat sunnah Rawâtib ini, sehingga para ulama sangat memperhatikannya? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb k berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)?” Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian.” Dari hadits tersebut, menjadi jelaslah betapa shalat sunnah Rawâtib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan yang melanda shalat wajib seseorang.

Sholat Sunnah

SHOLAT DHUHA

Pengertian Shalat Dhuha 

Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang masuk waktu zhuhur. Afdhalnya dilakukan pada pagi hari disaat matahari sedang naik ( kira-kira jam 9.00 ). Shalat Dhuha lebih dikenal dengan shalat sunah untuk memohon rizki dari Allah, berdasarkan hadits Nabi : ” Allah berfirman : “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya “ (HR.Hakim dan Thabrani).

 

Hadits Rasulullah SAW terkait Shalat Dhuha

 

  • Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga” (H.R. Tirmiji dan Abu Majah)
  • “Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (H.R Tirmidzi)
  • “Dari Ummu Hani bahwa Rasulullah SAW shalat dhuha 8 rakaat dan bersalam tiap dua rakaat.” (HR Abu Daud)
  • “Dari Zaid bin Arqam ra. Berkata,”Nabi SAW keluar ke penduduk Quba dan mereka sedang shalat dhuha‘. Beliau bersabda,?Shalat awwabin (duha‘) berakhir hingga panas menyengat (tengah hari).” (HR Ahmad Muslim dan Tirmidzi)
  • “Rasulullah bersabda di dalam Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim & Thabrani)
  • “Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat shalatnya setelah shalat shubuh karena melakukan i’tikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun banyaknya melebihi buih di lautan.” (HR Abu Daud)

 

Manfaat dan Makna Shalat Dhuha

Ada yang mengatakan bahwa shalat dhuha juga disebut shalat awwabin. Akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa keduanya berbeda karena shalat awwabin waktunya adalah antara maghrib dan isya.

Waktu shalat dhuha dimulai dari matahari yang mulai terangkat naik kira-kira sepenggelah dan berakhir hingga sedikit menjelang masuknya waktu zhuhur meskipun disunnahkan agar dilakukan ketika matahari agak tinggi dan panas agak terik. Adapun diantara keutamaan atau manfaat shalat dhuha ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

Juga apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya,”Siapakah yang mampu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah saw?” Beliau saw menjawab,”Dahak yang ada di masjid, lalu pendam ke tanah dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti sebuah sedekah. Akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

Didalam riwayat lain oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh berkata,”Nabi saw kekasihku telah memberikan tiga wasiat kepadaku, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat dhuha dan mengerjakan shalat witir terlebih dahulu sebelum tidur.”

Jumhur ulama mengatakan bahwa shalat dhuha adalah sunnah bahkan para ulama Maliki dan Syafi’i menyatakan bahwa ia adalah sunnah muakkadah berdasarkan hadits-hadits diatas. Dan dibolehkan bagi seseorang untuk tidak mengerjakannya.

Cara melaksanakan Shalat Dhuha :

Shalat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal duabelas rakaat, dilakukan secara Munfarid (tidak berjamaah), caranya sebagai berikut :

  • Niat shalat dhuha didalam hati berbarengan dengan Takbiratul ihram :

“Ushalli Sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”

Artinya :

“Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah ta’ala

 

  • Membaca doa Iftitah
  • Membaca surat al Fatihah
  • Membaca satu surat didalam Alquran. Afdholnya rakaat pertama membaca surat Asy-Syam  dan rakaat kedua surat Al Lail  
  • Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
  • I’tidal dan membaca bacaannya
  • Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
  • Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaanya
  • Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
  • Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas.

 

Bacaan Doa Sholat Dhuha Lengkap Bahasa Arab – Bahasa Indonesia dan Artinya

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.

 

Artinya: “Ya Alloh, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Alloh, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.